Cerpen - His name
Ini kisah tentang ku dan seorang anak lelaki yang tak ku ketahui namanya, dia adalah cinta pertamaku.
Kisah ini bermula saat pihak sekolahku memutuskan untuk merenovasi 2 kelas yang hampir rubuh. Sekolah ku adalah sekolah swasta yang ada di pedalaman, para siswanya pun rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahku sendiri adalah ketua komite sekolah dan dekat dengan guru-guru di sekolah. Itulah mengapa semua guru sangat perhatian padaku.
Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD, tapi, sikapku sudah cukup dewasa dibanding anak-anak seusiaku. Banyak cowok-cowok di sekolah maupun diluar sekolah yang tertarik padaku, padahal aku merasa tidak atau menarik cantik sama sekali. Entah apa yang mereka lihat dariku.
Saat pembangunan 2 kelas tersebut pihak sekolah hanya mampu menyewa 3 pekerja bangunan. 2 tukang bangunan dan 1 buruh bangunan. Para pak guru pun kadang ikut membantu pembangunan jika sedang tidak mengajar.
Pada saat itu, ada satu pekerja yang sangat menarik perhatian para siswi di sekolahku. Seorang buruh bangunan yang sangat tampan dengan body yang ideal. Dia terlihat seperti pekerja keras. Usianya mungkin berkisar 15 sampai 16 tahun. Saat itu aku heran dan bertanya-tanya, apakah dia tidak sekolah? Dan aku menyimpulkan mungkin ia putus sekolah dan memilih untuk menjadi buruh saja.
Banyak siswi-siswi kelas 5 atau kelas 6 yang selalu mengejar-ngejarnya. Saat waktu istirahat mereka hanya akan mengganggu buruh itu, mengajaknya bicara atau sekedar melihatnya saja. Dia adalah orang yang ramah pada semua orang, itulah mungkin kenapa para kakak kelasku tergila-gila padanya. Aku sendiri tak pernah berbicara dengannya, aku bahkan tak tahu namanya.
Saat waktu senggang atau istirahatnya ia gunakan untuk bermain tennis meja bersama siswa-siswa kelas 6 yang menjadi temannya. Kadang juga ia bermain dengan temannya si kulit bangunan.
Awalnya aku tidak tertarik. Memang sih, dia sangat tampan dan dia juga sepertinya keluarga kepala sekolah. Tapi untuk apa dia menjadi buruh bangunan? Hanya dia dan Tuhan yang tau.
Semakin lama, tanpa aku sadari aku mulai memperhatikannya. Melihatnya saat datang untuk bekerja dan saat pulang. Dan semua itu kulakukan dengan diam-diam. Mengintip dari balik jendela kelas agar tak ketahuan. Aku tak mau ada orang yang tahu kalau aku diam-diam mulai tertarik padanya. Kadang aku sengaja lewat dekat bangunan tempatnya bekerja hanya untuk sekedar melihatnya. Mendengar suaranya pun aku cukup bahagia. Aku tak tahu apa penyebab kebahagiaan ini.
Berhari-hari bahkan berminggu-minggu kujalani hariku dengan memperhatikan nya dalam diam. Hingga pada suatu hari, dimana kejadian yang cukup aneh terjadi.
Saat itu aku sedang bermain bersama teman-teman kelasku. Permainan yang sangat konyol, memasukkan sampah kedalam mulut itu sangat menjijikkan, tapi juga sangat menyenangkan saat semua berlari dan ada seorang yang membawa sampah untuk dimasukkan ke mulut yang lain.
Saat itu, aku dan dua teman perempuanku Rasti dan Rasmi bersembunyi didalam bangunan kelas yang baru dibangun. Didalam kelas tersebut si buruh bangunan itu dan satu temannya sedang bermain tenis meja. Karena kami merasa cukup aman didalam kelas itu, aku dan teman-teman ku memutuskan untuk menonton permainan tenis meja didalam kelas itu. Tapi, tak lama berselang, salah satu temanku Romi yang bertugas mencari target menemukanku didalam kelas. Tanpa pikir panjang, ia menyodorkan sampah padaku dan memaksaku untuk memakannya. Aku tentu menolak, tapi, dengan kekuatanku yang kalau kuat dari Romi membuatku hampir pasrah dengan keadaan. Romi mendesak ku sampai ke tembok dan tak bisa bergerak. Saat itu aku berfikir, akankah sampah ini akhirnya berlabuh didalam mulutku?
Tapi, hal yang tak terduga terjadi. Saat itu, si buruh ganteng itu dengan kuat mendorong Romi sampai terjatuh ke lantai. Sontak aku kaget, teman-teman ku juga. Apa yang terjadi? Aku melihat buruh itu, kami saling bertatapan. Jantungku berdetak begitu kencang. Apa ini? Mirip adegan romantis dalam film pikirku. Temannya si buruh itu bertanya padanya, "apa yang kau lakukan?" Dengan memasang wajah kaget tak percaya. Si buruh itu hanya menggelengkan kepala, "tidak apa-apa" katanya lalu melanjutkan permainan. Romi saat itu terlihat shock, dan langsung meninggalkan kelas itu. Mungkin ia bertanya-tanya, kenapa orang itu mendorong nya sampai jatuh. Aku pun berfikir sama. Sebenarnya apa yang terjadi? Rasti dan Rasmi kemudian membawa ku keluar dari kelas itu. Mereka dengan kompak berbicara, "ada apa dengan buruh itu? Mungkin dia menyukaimu, Kiki" kata mereka kompak. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku tak percaya. "Ngk mungkin"kataku. Aku masih sedikit bingung dan jantung ku masih berdetak begitu kencang.
Sejak saat itu aku masih selalu memperhatikan buruh itu tanpa mengetahui namanya. Setelah kejadian dalam kelas waktu itu, setiap mata kami bertemu kami langsung memalingkan wajah, tapi kemudian saling melirik kembali. Aku terlalu takut bicara padanya, atau bahkan menanyakan namanya. Aku terlalu pengecut untuk itu.
Hingga hari itu tiba, saat kelas telah selesai dibangun, itu berarti dia sudah tidak bekerja lagi. Para kakak kelasku sangat sedih karena tak bisa melihaynya lagi. Aku pun merasakan hal yang sama. Sejak kejadian itu, hatiku selalu berdebar-debar saat melihatnya bahkan mendengar suaranya. Yah, aku memang menyukainya. Aku tahu, di umurku yang masih sangat muda rasa ini bukanlah sesuatu yang serius, Tapi, tetap saja, dia telah memenuhi otakku sejak saat itu. Dan kini dia harus pergi.
Setelah beberapa bulan, aku sudah tidak mendengar pembicaraan tentang nya diantara siswi-siswi sekolah. Dia seolah terlupakan. Tapi, tidak denganku, aku masih selalu mengingatnya bahkan setelah setahun berlalu dan sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Aku masih jelas mengingat nya, wajahnya, dan kejadian waktu itu.
Aku selalu berharap agar bisa bertemu dengannya lagi, aku hanya ingin menanyakan 1 pertanyaan yang membuatku penasaran. Namanya. Siapa namanya? Aku benar-benar penasaran.
Ada satu lagu yang begitu menggambarkan perasaanku saat itu. Lagu dari Mika Tambayong, Cinta pertama.
Ada rasa
Yang tak biasa
Yang mulai kurasa
Yang entah mengapa
Mungkinkah
Ini pertanda
Aku jatuh cinta
Cintaku yang pertama~~
Saat ini pun, aku sudah menginjak usia 18 tahun, tahun ini aku sudah masuk kuliah. Aku masih bisa mengingat dengan jelas kejadian saat itu, tapi sayangnya aku mulai lupa dengan wajahnya. Mungkin sekarang dia sudah berumur 26 atau 27 tahun, mungkin. Sekarang pun, aku masih berharap bisa bertemu dengannya. Sangat berharap. Apakah dia juga masih mengingat ku?
-------
~Cinta itu tak memandang usia, profesi, pangkat, jabatan, status. Jika kau sudah jatuh cinta, maka terima saja, karena itu adalah ANUGRAH~
~RWB0812
Komentar
Posting Komentar